alisyah`s blog

Ada Ide Kado Buat Pernikahan Teman?

Posted in Angkolit by alisyah on February 4, 2010

Simple dan to the point, ada ide gak buat kado pernikahan teman?

Ini pertama ada teman yang nikah, jadi belum pengalaman tentang kado pernikahan. Oia, teman yang mau nikah tersebut cewek, dan nikahannya kurang lebih sebulan lagi.

Terimakasih.

Tagged with:

He Felt Like The Very Best Version of Himself While in Indonesia

Posted in Pariwisata by alisyah on January 28, 2010

My time in Jakarta (27 days) was the best time ever! I didn’t want to just be a traveller and see everything on a list.. I wanted to feel at home there, to have routines, to watch the same places for a number of days and see deeper than the excited novelty of quick travel. Yesterday I wrote this comment to a friend to describe my feeling about Jakarta;

” I miss my little Jakarta life.. I was going to travel right across Java but I just stayed in Jakarta.. I had my routines, my local pub, my friends.. my wanderings and adventures. I connected deeply with people, not just shallow travelling and “bule bullshit” …your language was swimming in my mind, in my dreams. I breathed the smokey air as though fresh mountain air.. with that much love. I walked in your rain and let it soak into me. I watched the beauty of Indonesian people.. beauty that I don’t think you know that you have.. sincerity, humour and grace. I felt like the very best version of myself while in your country.. I love Indonesia.. I love Indonesians.”

Every morning at 4am the many mosques would start the prayers and I would lay in bed with a warm smile. These people have so much semangat and faith. My Christians friend too, so clear in their thinking and so good in their hearts. It soaked into me.. touched those places in me, woke up my spirit. I feel so different now, in Sydney. I feel like Bruce Lee compared to my problems.. nothing bothers me. Except I wanna be back in Jakarta.

So if I didnt see you this time, you know I wanted to and there will be another time. Thanks to everyone who made me so welcome there! This glowing white bule felt like he was orang indonesia, that is how welcome you made me.

Let’s meet, or meet again!

cheers

Jam

Taken from Jamie’s note on facebook:

Tagged with:

Mengapa Banyak Lulusan TI yang Mengecewakan?

Posted in IT by alisyah on January 19, 2010

Beberapa hari yang lalu, detikINET merilis berita berjudul “Lulusan TI Banyak yang Mengecewakan“. Berikut potongan beritanya:

“Banyak pelamar tidak seperti yang kita harapkan. Kita sering kecewa. IPK (indeks prestasi)-nya tinggi, bagus secara kualifikasi. Tapi saat ditanya hal yang dasar, yang menurut kami mereka mengusainya, mereka tidak bisa. Dan banyak yang seperti ini” – Ahmad Bagus Santoso, Human Resource Departement PT Indocyber Global Teknologi kepada detikINET di sela acara JobsDB Career Expo 2010 di Sasana Budaya Ganesha, Tamansari, Bandung, Sabtu (16/1/2010)*

Tepat di hari berita tersebut dirilis, saya mendengarkan perkataan teman sekelas di kampus, yang berkaitan dengan berita di atas.

Berawal dari seorang dosen yang kelasnya membosankan. Menurut mahasiswa, Ibu dosen ini kurang aktif dalam proses belajar mengajar. Sepanjang jam perkuliahan selalu duduk di kursi, materi yang dijelaskan dalam bentuk dokumen (.doc) bukan presentasi (.ppt), tidak memanfaatkan white board, dan menjelaskan materi hanya dengan membaca dokumen tadi. “Mahasiswa juga bisa kalau cuma baca, tinggal dikasih materinya”.

Ibu dosen ini memang mengadakan sesi tanya jawab di setiap sesi kuliahnya, tapi respon mahasiswa selalu nihil. Pengalaman sendiri, melihat Ibu dosen yang malas bergerak (selalu nempel di kursi), saya juga malas mengikuti kuliahnya. Membosankan.

Mungkin karena penasaran dengan profile Ibu Dosen tadi, ada teman sekelas yang ‘menguntit’ rekam jejak profesi kedosenannya. Pada website kampus, tertera bahwa si Ibu juga membawakan mata kuliah lain. Penguntitan berlanjut. Tertera pada syllabus, materi kuliah Ibu Dosen hanya menyangkut jenis dan manfaat tools yang digunakan terkait mata kuliah yang dibawakan. Tidak ada materi bagaimana menciptakan objek A atau B, padahal seharusnya mata kuliah tersebut menghasilkan skill dalam bidang TI. “Kok bisa jadi dosen, sih?”.

Perhitungan Gaji Dosen Awal dari perbincangan teman tadi adalah kejadian pada kelas sebelumnya, kelas Pemograman Berbasis Objek. Materi yang disampaikan adalah Swing, tampilan GUI di Java. Pak Dosennya memberikan latihan praktikum membuat program Menghitung Gaji Dosen, dimana terdapat dua radio button untuk memilih status dosen, dosen tetap atau dosen honor. Berhubung editor-nya menggunakan JCreator, maka pendefinisian (termasuk pengaturan layout tampilan) komponen dilakukan dengan kode program, tidak bisa drag and drop. Kemudian ada teman yang bertanya bagaimana pengaturan layout radio button tersebut, agar tampilannya sejajar dengan textbox nama dan jumlah sks yang berada di atas dan bawah kedua radio button tersebut. Singkatnya, Pak Dosen tidak bisa memberikan jawaban. Tapi, Pak Dosen meminta mahasiswa mengumpulkan latihan praktikum tersebut dan berpengaruh pada komponen nilai tugas. “Ya, Dosen kacau”.

Saya miris sendiri mengalami kondisi seperti ini. Ibu dosen tampak tidak berbakat/berminat. Pak Dosen menuntut suatu keahlian yang Pak Dosen benar-benar tidak bisa. Sekali pun Pak Dosen tidak bisa, seharusnya beliau punya jawaban bagaimana mahasiswa bisa menemukan jawaban, bukan diam dan cuma berkata ‘gimana ya?!’. Masalahnya (more…)

Tagged with:

Dari Dalam ke Luar

Posted in Buku by alisyah on January 12, 2010

Ketika aku masih kecil dan bebas
dan imajinasiku tidak ada batasnya, aku
mengimpikan untuk mengubah dunia;

Ketika aku semakin besar dan
semakin bijaksana, aku sadar bahwa
dunia tak mungkin diubah.

Dan aku putuskan untuk mengurangi
impianku sedikit dan hanya mengubah
negaraku. Tetapi itupun tampaknya
tidak mungkin.

Ketika aku memasuki usia senja,
dalam suatu upaya terakhir, aku berusaha
mengubah keluargaku sendiri, tetapi sayang,
mereka tidak menggubrisku.

Dan sekarang menjelang ajal, aku sadar
(mungkin untuk pertama kalinya) bahwa kalau
saja aku mengubah diriku dulu, lalu dengan
teladan mungkin aku bisa mempengaruhi
keluargaku, dan dengan dorongan serta
dukungan mereka mungkin aku bisa membuat
negaraku menjadi lebih baik, siapa tahu,
mungkin aku bisa mengubah dunia.

————————

Jika kita menginginkan sebuah perubahan,
maka kita harus memulai dari diri kita sendiri :-)

Rangkaian tulisan di-atas saya baca pada buku terjemahan
berjudul The 7 Habits of Highly Effective Teens

Tagged with: