Nagoya Hill Semalam ada cerita gilak dari kita anak KP [Kerja Praktek] di PT. Citra Tubindo. Seperti biasa, semalam kita pulang ngantor sekitar pukul 17.20, dan tanpa menunggu lama, kita diantar sama Pak supir dengan menggunakan mobil perusahaan. Sekitar pukul 17.35, akhirnya kita tiba di areal perumahan Citra Mas - Batu Besar, Batam. Setelah di rumah, kita berencana mau makan nasi goreng gila yang agak jauh dari kompleks perumahan Citra Mas. Tapi pas di perjalanan menuju restoran yang menjual nasi goreng gila tersebut, entah kenapa dan bagaimana bisa, tiba-tiba ada usul kalo kita makan ke Nagoya aja. Well, kita berempat setuju dan jadilah kita menuju Nagoya Hill.

Setelah panas duduk di mobil, akhirnya kita tiba juga di Nagoya Hill. Tanpa banyak komentar, kita setuju langsung nyari tempat makan. Eits, aku ngambil duit dulu ya, soalnya ga bawa duit dari rumah :) . Pas di ATM BNI yang di Nagoya Hill, kartu ATM ku di-reject terus sama mesinnya. Katanya kartuku ga diproses gitu, trus mesinnya minta agar kartu ATM ditarik dan dimasukkan kembali. Hal tersebut berulang sampai sekitar 6 x, sebelum akhirnya berhasil juga. Hehehe……, ada juga buah kesabaran. Kira-kira itu kenapa ya? Apa karena ATM ku adalah ATM Mandiri? Sepertinya tidak, karena hari Jumat 11-07-08, aku melakukan pengambilan uang di mesin ATM yang sama dan tanpa ada gangguan. Akh, whatever lah itu, yang penting aku bisa ngambil duit.

Karena sudah pada lapar, maka kita nyari tempat makan yang tidak jauh dari mesin ATM. Setelah melihat-lihat, akhirnya jatuh hati pada es teler 77. Kita memilih tempat itu karena kebetulan aja lewat, terus juga lagi sepi jadi kita lebih leluasa memilih tempat yang cocok. Tanpa pikir panjang, terjadi penawaran antara pihak kita dengan staff es teler 77. Hiats hiats, akhirnya kita memesan nasi goreng+teh botol sosro (apapun makanannya, minumnya teh botol sosro) sebanyak 4 porsi. Treteteng…. bill pembayaran menunjukan harga sebesar Rp. 66.000,-. Hmm, standar lah. what? (more…)

BIngung dengan judul diatas? Well, sebetulnya aku juga bingung memilih judul yang tepat. Dikarenakan hal tersebut, postingan ini pun mengalami delay selama lebih dari seminggu. Tapi tak mungkin ga ada judul, nanti ga lulus pulak jadi sebuah postingan. Okelah, berikut cerita terkait judul di atas.

Tepatnya Minggu 6-Juli-08, tiba-tiba ada panggilan dari nomor baru. Abakadabra, ternyata dari kawan yang sejak beberapa bulan terakhir aku telah lose contact dengan dia dikarenakan dia yang ganti nomor HP. Setelah cerita punya cerita, ternyata dia memperoleh fasilitas akses internet dikantornya. Jadi dia tau kalo blog ini ada, terus mungkin pernah juga ngakses akunku di flickr, soalnya dia bilang kalo dia ngeliat poto-potoku. Mendengar cerita yang kek gitu, responku biasa aja. Tinggal nge-google dengan keyword alisyah, nanti alamat blog ini akan bertengger di urutan pertama.

Yang membuat aku agak geger tapi ga ge-er adalah, dia ngakunya tau nomor HP aku dari internet. Okelah kalo dia tau blog ini, trus tau juga akun-ku di flickr, multiply, friendster dan juga (more…)

Hello all, good morning!

Yup, sekarang aku lagi di asrama Politeknik Batam (PolBat). Aku bukan mahasiswa Politeknik ini, namun peraturan yang berlaku memperbolehkan yang bukan mahasiswa menginap di asrama ini. Hehehe, ga percaya? Aku cuma numpang menginap di kamar salah seorang teman yang nge-kost di asrama ini.

Kamar asramanya termasuk elite, berukuran sekitar 4×4 meter. Masing-masing kamar dihuni maksimal 3 orang dan masing-masing orang atau mahasiswa yang menginap diberi fasilitas tempat tidur dan lemari. Mahasiswa atau pun yang menginap di kamar ini diperbolehkan membawa barang-barang elektronik pribadi seperti komputer/laptop, dan TV. Asyik kan?!!!

Selain itu, tersedia fasilitas wireless. Postingan ini aku buat secara langsung dari asrama putra kamar A2. Sedari tadi kita browsing aja, karena ga bisa tidur. Bukan karena ada larangan tidur, tapi karena (more…)

Pangkas RambutHari Minggu kemarin, 06-07-08 (oops, unik kan?) kami memutuskan untuk pangkas rambut. Sebetulnya kita sudah mau pangkas rambut sejak dua hari yang lalu, tapi pas kita ke tempat pangkasnya, katanya mereka lagi off karena listrik juga off. Emang ga bisa secara manual pake gunting? I dunno lah, staff tukang pangkasnya aja ga keliatan. Kita taunya kalo usaha jasa tersebut off yaitu dari bapak-bapak yang duduk-duduk di depan tempat pangkas rambut itu.

Banyak keunikan yang belum pernah kulihat sebelumnya saat pangkas rambut kemarin. Ga tau apakah yang kubilang sebagai keunikan itu merupakan habit atau cuma kebetulan aja. Ok, mari kita simak keunikan-keunikan tersebut. (Kalo anda membaca bacaan ini sampe selesai, sebaiknya anda memutuskan apakah itu sebagai keunikan juga atau tidak bagi anda)

Pertama: Tempat Pangkasnya
Setiba di tempat pangkas tersebut, aku merasa aneh dengan ruangan yang luasnya sekitar 3×2 meter tersebut. Lumrahnya, benda yang paling umum ditemukan di tempat pangkas adalah cermin. Biasanya, cermin digantung di dua sisi, yaitu dibagian depan dan belakang korban pemangkasan rambut. Namun beberapa tempat pangkas ada yang cuma menggantungkan cermin di satu sisi, dan umumnya tempat pangkas tersebut adalah masih kecil atau dalam tahap perkembangan. Tapi tempat pangkas yang dikasih nama Junaidi itu dipasangi 3 (more…)

Ya, kita mahasiswa KP dari Politeknik Informatika Del - Sumatra Utara yang melaksanakan KP di PT. Citra Tubindo - Batam, bisa berterimakasih banyak kepada pihak perusahaan karena kita diberi fasilitas penginapan, antar jemput dan juga makan siang. Kita disediakan penginapan berupa rumah mini (standar??) yang terletak di Perumahan Citra Mas daerah Nongsa - Batam. Rumah dengan 2 kamar tersebut berisikan TV, Kulkas, AC/Kipas Angin, Shower, Meja Makan (pastinya dengan kursi juga), dan juga lemari di masing-masing kamar. Selain itu juga ada westafel dan juga kompor gas. Well, keadaan rumah berikut dengan fasilitasnya kami jumpai dalam keadaan baik dan dapat dioperasikan. Hanya saja, setelah beberapa saat memiliki rumah tersebut, rentetan kekurangan mulai terasa mulai dari permasalahan yang bisa diabaikan sampai dengan yang membuat kita pengen pindah rumah (emang punya duit??)

Permasalahan Pertama: Kulkas
Kita diberi kulkas besar 3 pintu tanpa ada isi. Biasanya kulkas itu kan digunakan buat mengawetkan sesuatu, dan kalo kita mengawetkan sesuatu, itu berarti kebutuhan kita pada sesuatu tersebut bisa dikatakan non primer untuk saat itu. Misal, kulkas berisikan buah, itu berarti buah tersebut bisa saja sedang tidak kita butuhkan saat ini, sehingga ditaruh di kulkas agar dapat dikonsumsi kemudian hari. Yang menjadi permasalahan adalah (more…)

Jembatan Barelang adalah nama jembatan “megah” yang menghubungkan tiga pulau yaitu Batam-Rempang-Galang. Masyarakat setempat menyebutnya “Jembatan Barelang”, namun ada juga yang menyebutnya “Jembatan Habibie”, karena beliau yang memprakarsai pembangunan jembatan itu untuk menfasilitasi ketiga pulau tersebut yang dirancang untuk dikembangkan menjadi wilayah industri di Kepulauan Riau. Ketiga pulau itu sekarang termasuk Provinsi Kepulauan Riau, Kepri, sebuah provinsi yang baru saja diresmikan keberadaannya oleh menteri dalam negeri.

sumber: wikipedia.org

Sabtu kemarin sepulang ngantor di PT. Citra Tubindo, kita dibawa jalan-jalan sama salah seorang karyawan perusahaan tersebut, yaitu Bapak Syafril. Ya, kita dibawa jalan-jalan ke Jembatan Barelang. Jembatan tersebut dibangun oleh Bapak Habibie, mantan presiden Republik Indonesia. Dibangun pada tahun 1992 dan mulai dioperasikan tahun 1997.

Jembatan Barelang Setidaknya ada 6 jembatan yang menghubungkan ketiga pulau yaitu Batam-Rempang-Galang (disingkat Barelang). Namun yang paling panjang dan unik adalah jembatan I, sementara 5 jembatan lainnya layaknya seperti jembatan biasa.

Desain jembatan I ini sangat unik, seperti jembatan di Amerika (katanya, soalnya aku pun belum pernah ke Amerika). Pemandangan dari jembatan ini sangat indah. Bila kita berdiri di jembatan I dan mengarah ke jembatan II, maka di sebelah kiri kita terlihat hamparan laut berikut dengan pulau-pulau kecil yang terpisah yang ada di tengah-tengah laut tersebut. Sementara di sebelah kiri kita terlihat hamparan laut juga, dan jauh di sisi-nya terdapat semacam perkampungan di tengah hutan lebat. Sangat indah… (more…)

Di hari kedua di Batam, yaitu Minggu 22-Juni-2208, kita kedatangan tamu. Rupanya adalah namboru si Febrin. Ga lama di rumah, namborunya tersebut malah ngajak kita ke rumahnya yang ada di perumahan MKGR wilayah Batu Aji. Pertama kita naik angkot dari depan perumahan Citra Mas ke Simpang Kabil. Sebetulnya jarak tersebut ga begitu jauh, cuma karena keliling-keliling ke batam centre, jadinya terasa sangat jauh, dan kita harus bayar Rp. 5.000,- sebagai ongkos. Dari simpang kabil, naik angkot lagi ke Batu Aji dengan harga ongkos sebesar 3.000 rupiah. Untungnya, namboru si Febrin membayar ongkos kita dengan baik.

Panbil MallSetelah makan mie gomak, kita pulang dengan membawa seperangkat keperluan makan yaitu cangkir, pisau, piring, cabe, jahe, dkk. Karena kita salah mobil (tapi keknya kita dibodoh-bodohin ama si supir sial itu), jadinya kita turun di depan Panbil Mall yang ada di wilayah Muka Kuning. Karena kita merasa kesasar dan sepertinya butuh pertolongan pertama yang secepatnya, maka kita menghubungi Adrian. (more…)

Sebelum berangkat ke Batam ini, kita sudah tau kalo biaya hidup terutama untuk makan sangat tinggi. Katanya, dikarenakan tanah di Batam adalah tanah merah sehingga tidak bagus bila ditanami dengan tumbuhan seperti sayuran.

Ayam Penyet Pertama sekali mau cari makan, yaitu makan malam pada hari pertama di Batam, Sabtu 21Juni 2008, kita mencoba mencari di areal perumahan Citra Mas. Dari hasil penjelajahan, ternyata cuma 1 warung makan di areal perumahan tersebut. Tapi karena warung makan tersebut adalah milik Betawi, dan spanduk berisi list makanannya juga aneh bagi kita, maka kita mencoba mencari di luar areal perumahan tersebut. Hal lain yang membuat kita ogah makan di sana malam itu adalah, mejanya cuma 4 dan semuanya penuh.

Berjalan kaki sekitar pukul 9.40-an malam, sepertinya hal yang tidak wajar di daerah Nongsa. Soalnya, orang-orang yang ada di warung kopi dan tempat mangkal para remaja pada ngeliatin kita. Emang gilak, berjalan kaki tanpa tujuan, cuma mereka kan ga tau kalo kita berjalan tanpa tujuan. Setibanya di areal perumahan sebelah, kita singgah di warung makan yang pertama. Warung makan yang satu ini tidak jauh beda dengan warung makan sebelumnya. Warung makan ini juga memiliki 4 meja, cuma semuanya lagi kosong alias tidak ada orang yang sedang makan.

Penjaga warung makan ini rupanya dua orang cewek yang salah satunya berpakaian youcansee. Wajar, daerah Batam itu panas. Terus, kita nanya menu apa aja yang ada. Karena kita juga ga tau apa aja yang dijual di sana, jadinya kita mesan nasi goreng aja.

Kita: Nasi goreng ada mbak?
Mbak: ada, tapi tunggu di goreng dulu ya!
Kita: (mata agak terbelalak dan kening mengerut dan senyum dipaksakan) iya mbak

Dalam pikiranku, aku nanya orang ini gila apa gilak. Tapi ya udah la, yang penting makan, kita dah kelaparan ni. Namun, ga lama lagi, si mbak itu datang dari dapur. Trus berkata (more…)

Turut berduka cita atas berpulangnya Bapak Ramlan Marpaung dan Bapak Situmeang.
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, dan almarhum diterima di sisi-NYA.

Tempat KP yang berada di seberang pulau musti ditempuh dengan pesawat. Kalo mengingat tiket pesawat yang melambung tinggi karena musim liburan, kepincut juga keinginan buat naik pesawat. Cuma, standardisasi menetapkan bahwa mahasiswa KP harus melalui pesawat menuju pulau Batam. Mau tidak mau, orang tua harus siap lebih terbebani lagi.

Sriwijaya Air Pesawat yang mengangkut mahasiswa KP ke Batam adalah Sriwijaya Air. Pertama pas kita di waiting room di bandara Polonia Medan, lebih dari setengah jam kita memasang telinga biar peka terhadap pengumuman. Selain itu, kita juga duduk di kursi yang dekat dengan board pengumuman. Membagi mata antara bandara dan board pengumuman menjadi sesuatu yang melelahkan. Di satu sisi, kepengen aja ngeliat bagaimana para passenger menuju pesawat. Di sisi lain, kita musti tanggap terhadap papan gosip yang dipajang di waiting room tersebut.

Keberangkatan pesawat Sriwijaya Air menuju Batam dijadwalkan pada pukul 14.30. Sekitar pukul 14.20-an, terdengar suara cewek mengumumkan agar penumpang pesawat tersebut segera menuju pesawat melalui Gate-1. Kalo sebelumnya ada yang naik bus menuju pesawatnya, entah kenapa kita malah jalan kaki. Tapi okelah, biar kita bisa melihat bandara itu secara leluasa. Maklum, baru pertama kali.

Di Pesawat, kita diicarikan tempat duduk oleh pramugarinya berdasarkan tiket yang kita pegang. Terus, kita dipandu buat nyimpan tas dan diberi tau kalo tas tidak boleh berisikan minuman, sebaiknya minuman dipegang saja. Secara general, tempat duduk pesawat Sriwijaya Air sangat sempit. Jadi kalo misalnya ada penumpang (dekat jendela) yang ingin ke toilet, maka penumpang yang di sebelahnya harus ikut bergerak memberikan ruang. Yah, ketidaknyamanan yang pertama. (more…)

Next Page »