Human Error kah?
Belakangan ini banyak bermunculan situs jejaring sosial, dimulai dari boomingnya friendster yang kemudian tenggelam seiring kehadiran si buku wajah aka facebook. Mungkin udah jadi demand, semakin teknologi berkembang maka bentuk sosialisasi -termasuk medianya- pun harus ikut menyesuaikan. Seiring boomingnya facebook, jejaring sosial karya anak Indonesia juga bermunculan, seperti FunPage dan Koprol.
Suku Batak adalah sebuah suku yang berada di daerah Toba atau Tapanuli, Sumatra Utara. Suku Batak dikenal dengan sistem marga-marga (pemargaan) yang jumlahnya tidak sedikit dan saling terkait. Kalau bisa dibilang, semua suku Batak adalah ‘berkeluarga’, ada ikatan darah jika asal-usul marga dan penomorannya dirunut balik ke atas (ke nomor awal) secara teliti. Berdasarkan pemargaan ini juga masyarakat Batak membentuk pola hidup dalam berinteraksi. Adanya panggilan tulang, amang boru, oppung, dan sebagainya, terkait dengan pemargaan tadi. Efektif memang dalam membentuk budaya yang baik dan tersusun rapi, tapi terkadang malah (sangat) membingungkan. Note: Suku Batak dilengkapi dengan sistem penomoran marga masing-masing, jadi kita bisa merunut siapa-siapa saja nomor yang di atas kita, tentunya orang-orang tersebut adalah keluarga kita.
Kerumitan tersebut mungkin bisa juga dimudahkan dengan adanya teknologi. Kalau pun tidak memudahkan, minimal untuk tetap bisa mempertahankannya sebagai budaya. Adanya komunitas Dongan (Dongan=teman) sangat dinanti dan diharapkan bisa eksis di dunia maya. Saya dan teman pernah berencana membangun sistem yang serupa, namun karena satu dan lain hal, rencana tersebut dibatalkan. Perlu perencanaan yang sangat matang untuk melakukan semua itu. Tapi ya sudahlah, nanti saya dibilang cari-cari alasan atas kegagalan yang saya alami…
Saya sangat yakin komunitas ini dinanti masyarakat Batak. Pun saya sangat senang mengetahui adanya komunitas ini, dengan harapan saya bisa belajar banyak mengenai adat istiadat Batak, saling bertemu sapa dengan sesama suku Batak, menemui uraian-uraian jenis-jenis ulos, prosesi pernikahan (more…)
You Came to Me – Sami Yusuf
Lirik:
You came to me in that hour of need
When I was so lost, so lonely
You came to me took my breath away
Showed me the right way, the way to lead
bridge:
You filled my heart with love
Showed me the light above
Now all I want Is to be with you
You are my One True love
Taught me to never judge
Now all I want Is to be with you
chorus: (more…)
Tari Pendet, Indonesia dan Malaysia
Bendera Merah Putih
Ini bukan kali pertama Malaysia nge-claim budaya Indonesia. Batik, Reog, Angklung dan masih banyak lagi yang telah di-claim Malaysia sebelumnya. Pendapatan Malaysia dari pariwisata memang sangat tinggi, jauh dari Indonesia yang memiliki keberagaman budaya. Hal ini merepresentasikan, betapa kita bangsa Indonesia ternyata kurang peduli dengan budaya sendiri. Mungkin dikarenakan banyak hal lain yang kita harus lebih fokus seperti korupsi dan birokrasi yang nge-jelimet.
Tapi apapun itu, agar tidak berulang hal yang sama, pemerintah harus segera mengambil sikap yakni meng-inventarisasikan kekayaan budaya kita. Inventarisasi pun mungkin tidak cukup, harus dibarengi dengan sumber daya manusia yang menguasai budaya-budaya tersebut. Kalau masalah jumlah orang, tentunya kita tidak kekurangan. Namun dana-lah yang terus menjadi alasan utama setiap problema di bangsa ini. Tidak tau apakah kita memang tidak punya dana ato punya dana tapi tidak digunakan. Berita koruptor selalu jadi hits di media-media nasional, jadi kurang etis kalo dana sebagai alasan. Dan lagipula, dana kecil juga bisa besar pengaruhnya asal pengalokasiannya tepat guna.
Pemerintahan kita pun kelihatan kurang tegas dalam mengkritisi hal ini. Ketua DPR sudah bilang kita harus kritis, pulangkan saja dubes Malaysia atau panggil balik dubes Indonesia yang di Malaysia. Namun memang tidak segampang itu, jutaan TKI berada di Malaysia dan harus ada yang ‘menjaga’ mereka di sana. Solusi yang tepat memang diplomasi, tapi diplomasinya harus tegas juga. Jangan hanya karena kita sudah menerima surat permohonan maaf, lantas urusan selesai. Mungkin bisa dibuat hal-hal yang lebih mengikat, semisal jika kejadian yang sama berulang maka kita berhak memutus kerja sama dan sebagainya.
Untuk urusan ini, saya malah salut besar buat Undip. Mereka tidak lagi menerima mahasiswa dari Malaysia. Orang-orang Malaysia masih banyak yang belajar di kampus-kampus kita, yang pada umumnya mereka mengambil jurusan kedokteran. Mungkin Malaysia sedang menghimpun warganya untuk dijadikan dokter. Tidak hanya di Undip, di FK USU (Universitas Sumatra Utara) (more…)



