Catatan Akhir Tahun 2011

Pada akhir minggu lalu yang bertepatan dengan libur Natal, aku kembali membuka buku catatan kecil. Biasanya cuma buka 1-2 halaman untuk baca tulisan yang paling terakhir, tapi karena momennya akhir tahun jadinya aku cari catatan pada tanggal akhir Desember 2010 dan awal Januari 2011.

Pada tanggal 29 Desember 2010 pukul 23.44, ada tulisan dengan judul Resolusi 2011. Pada bagian detailnya, tercatat 5 poin penting. Tapi kemudian pada tanggal 3 Januari 2011, resolusinya diubah dan hanya menjadi 4 poin penting. 1 poin dihilangkan karena memang tidak dibutuhkan lagi.

Kemudian dilihat sekarang ini, poin penting pertama tidak bisa dibilang tercapai tapi tidak bisa dibilang gagal juga. Kebetulan pokok persoalannya terkait finansial. Total nilainya tercapai tapi pemanfaatannya tidak seperti yang tertulis. Sementara poin ke-2 dan ke-3 tercapai dengan sempurna. Absolutely perfect. Detail per detail terlaksana dengan baik. Tapi untuk poin ke-4, bingung untuk bilang gagal atau tercapai karena hampir sama dengan poin pertama. Namun poin ke-4 bukan masalah finansial, lebih ke ‘kepribadian’ (susah nyari kata yang tepat :D ), jadi lebih susah untuk mengukur tingkat pencapaiannya.

Kesimpulannya: poin pertama tadi dinyatakan setengah gagal. Jadinya poin tersebut akan tercatat kembali di tulisan dengan judul Resolusi 2012. Sementara terkait poin ke-4, dengan segala kerendahan hati, tidak ikut lagi di barisan.

Beberapa hal di 2011:
1. Januari, ada tulisan untuk membiasakan diri melakukan 8 hal penting dengan bantuan habitforge.com. Statusnya berantakan, gagal.
2. Februari, fokus ke proses hemat-hemat terkait buku dan pakaian.
3. April, ada catatan dengan judul “REENGINEERING!!!” (huruf kapital dan tiga tanda seru). Di bulan tercatat sejarah baru. Di penghujung April, tepatnya tanggal 21, ada tulisan: Dare to Dream Big. Everything is Achievable! Ini kayaknya habis baca buku Dare to Dream Big-nya Merry Riana.
4. Awal Mei, tanggal 2, ada catatan dengan judul: Aku Ingin Menjadi Pribadi yang Lebih Baik Hari Ini. Detailnya sampai satu halaman. Hahaha. Selebihnya catatan di bulan Mei semuanya terkait abangku, yang baru hijrah ke Jakarta.
5. Juni, pada tanggal 6 pukul 01.24 AM, ada tertulis ‘quote’ dari TB Silalahi, Merry Riana, dan Mario Teguh. TB Silalahi: “Kalau 6 jam tidur sehari, itu kehidupan mamak-mamak”. Merry Riana: “Kesuksesan ditempuh di 100.000 jam kerja. Tingkatkan jam kerjamu”. Mari Teguh: “Selesaikan apa yang sudah dimulai. Berani gagal besar”.
6. Agustus, semua catatannya terkait keuangan. Padahal Agustus itu bulan puasa dan sibuk2nya dengan skripsi dan sidang. Tapi tidak ada sama sekali catatan mengenai Ramadhan, Idul Fitri, dan Skripsi. Bulan paling galau se-2011 haha Continue reading

Posted in Myself | 1 Comment

R.I.P Steve Jobs

The world has lost the true legend.
A year ago, I red a book which describing how visionary and creative he is. When I get finished with the book, I tried to gain more info about him. And Google’s directed me to his 2005 Stanford commencement address video. Go get inspired!

‘You’ve got to find what you love,’ Jobs says

This is a prepared text of the Commencement address delivered by Steve Jobs, CEO of Apple Computer and of Pixar Animation Studios, on June 12, 2005.

I am honored to be with you today at your commencement from one of the finest universities in the world. I never graduated from college. Truth be told, this is the closest I’ve ever gotten to a college graduation. Today I want to tell you three stories from my life. That’s it. No big deal. Just three stories.

The first story is about connecting the dots.

I dropped out of Reed College after the first 6 months, but then stayed around as a drop-in for another 18 months or so before I really quit. So why did I drop out?

It started before I was born. My biological mother was a young, unwed college graduate student, and she decided to put me up for adoption. She felt very strongly that I should be adopted by college graduates, so everything was all set for me to be adopted at birth by a lawyer and his wife. Except that when I popped out they decided at the last minute that they really wanted a girl. So my parents, who were on a waiting list, got a call in the middle of the night asking: “We have an unexpected baby boy; do you want him?” They said: “Of course.” My biological mother later found out that my mother had never graduated from college and that my father had never graduated from high school. She refused to sign the final adoption papers. She only relented a few months later when my parents promised that I would someday go to college.

And 17 years later I did go to college. But I naively chose a college that was almost as expensive as Stanford, and all of my working-class parents’ savings were being spent on my college tuition. After six months, I couldn’t see the value in it. I had no idea what I wanted to do with my life and no idea how college was going to help me figure it out. And here I was spending all of the money my parents had saved their entire life. So I decided to drop out and trust that it would all work out OK. It was pretty scary at the time, but looking back it was one of the best decisions I ever made. The minute I dropped out I could stop taking the required classes that didn’t interest me, and begin dropping in on the ones that looked interesting.

It wasn’t all romantic. I didn’t have a dorm room, so I slept on the floor in friends’ rooms, I returned coke bottles for the 5¢ deposits to buy food with, and I would walk the 7 miles across town every Sunday night to get one good meal a week at the Hare Krishna temple. I loved it. And much of what I stumbled into by following my curiosity and intuition turned out to be priceless later on. Let me give you one example: Continue reading

Posted in Inspirasi | Tagged , | Leave a comment

Para Cowok RIBET!!!

Kondisi di salah satu warung makan di sekitaran Kebon Sirih, lagi pada ngantri makan siang.

Kasus 1:
Ibu Penjual: Makan mas? (Ibunya selalu nanyain begini, meskipun rata-rata yg di sana udah langganan tetap)
Pria 1: Iya Bu.
Ibu Penjual: Nasinya satu atau setengah? (nanyain porsi nasi)
Pria 1: Satu setengah.
Ibu Penjual: (Merasa ada yang salah dengan telinganya, pertanyaaan diulang lagi) Satu atau setengah mas?
Pria 1: Satu setengah, Bu.
Ibu Penjual: Serius?
*yang ngantri pada ketawa*

Kasus 2:
Ibu Penjual: Makan mas?
Pria 2: Iya Bu.
Ibu Penjual: Nasinya satu atau setengah?
Pria 2: 3/4 Bu.
*pria 1 nyelutuk: ribet amat nih cowok :ngakak: *

Kasus 3:
Ibu Penjual: Makan mas?
Pria 3: Iya Bu.
Ibu Penjual: Nasinya satu atau setengah?
Pria 3: Satu Bu.
Ibu Penjual: Lauknya apa mas?
Pria 3: Ayam Bakar Bu.
Ibu Penjual: Paha atau dada?
Pria 3: Paha aja Bu. Paha kiri ya.
Ibu Penjual: Gimana ngelihatnya ini kiri atau kanan ya?

Ribet kan jadi cowok? Eh, ups!

Posted in Humor, Jakarta | 3 Comments

Gerakan Satu Orang Satu

Sudah pernah nonton film Pay It Forward gak? Film tersebut bercerita mengenai “Pohon Pertolongan”. Setiap 1 orang menolong 3 orang lain, dan masing-masing akan menolong 3 orang lainnya. Dengan konsep tersebut, diharapkan akan banyak orang yang tertolong, dan bumi ini menjadi semakin dekat dengan kedamaian dan kesejahteraan. Nah, di Indonesia saat ini ada yang namanya Satu Orang Satu atau disingkat SOS.

SOS ini adalah gerakan satu orang menolong satu orang lain. Nantinya yang ditolong tersebut akan menolong satu orang lainnya. Tujuannya sama, untuk dunia yang lebih baik, lebih indah. Untuk informasi lebih lanjut, bisa follow @satuorangsatu atau ke website mereka di http://www.satuorangsatu.com/

Mari berbuat untuk Indonesia yang lebih baik :-)

| 1 Comment